BERDOA DAN BEKERJA

Bacaan: Nehemia 4:1-23 

NATS: Tetapi kami berdoa kepada Allah kami, dan mengadakan penjagaan terhadap mereka siang dan malam karena sikap mereka (Nehemia 4:9)

Mana yang lebih penting; berdoa atau bekerja? Ada yang berkata bahwa berdoa lebih penting, sebab tanpa berdoa kita tidak bisa melakukan apa-apa. Namun ada juga yang mempertanyakan, buat apa banyak berdoa, tetapi tidak bekerja? Bagi Nehemia, kedua hal ini tak perlu diadu tingkat kepentingannya.

Mari simak apa yang ia lakukan. Saat menghadapi tantangan dan ancaman dari Sanbalat dan Tobia, Nehemia menaikkan doa kepada Tuhan agar rencana musuhnya digagalkan. Namun, Nehemia juga menyuruh orang-orangnya agar tetap berjaga-jaga supaya dapat mengantisipasi bila sewaktu-waktu ada serangan musuh (ayat 9). Dari Nehemia kita belajar bahwa doa adalah hal yang sangat penting, tetapi bekerja juga hal yang tidak kalah penting.

Dalam film Facing The Giants, seorang pendeta bertutur kepada sang pelatih futbol tentang dua petani yang sama-sama berdoa meminta hujan kepada Tuhan. Petani yang pertama hanya berdoa, tetapi ia tidak mempersiapkan ladangnya untuk menerima hujan. Sedangkan petani yang kedua bukan hanya berdoa, tetapi juga mempersiapkan ladangnya. Jika kemudian Tuhan memilih; kepada petani mana Tuhan akan menurunkan hujan? Tentu yang kedua, karena dengan mempersiapkan ladang, ia beriman bahwa doanya akan dikabulkan. Ketika menghadapi rintangan dalam hidup ini, mari kita datang kepada Tuhan. Sampaikan segala keluh kesah kita kepada-Nya, dan percayalah bahwa Tuhan pasti akan menolong. Namun sementara itu, kita pun harus waspada dan memikirkan cara terbaik untuk mengatasi masalah tersebut. Tak hanya berdoa, kita harus bekerja juga -RY

BERDOA DAN BEKERJA ADALAH DUA HAL YANG HARUS DILAKUKAN BERSAMA-SAMA

AMBISI

"Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu" (Markus 10:43)

Pada tahun 2003, Michael Weiskopf, wartawan majalah TIME, berangkat ke Irak. Bersama tentara Amerika Serikat, ia meliput suasana perang dari dalam tank baja. Tak dinyana, sebuah granat dilemparkan ke dalam tank itu dan meledak! Weiskopf pun kehilangan tangan kanannya. Ketika kembali pada keluarganya, ia merenung: “Mengapa aku mau diutus ke medan perang hingga cacat begini?” Akhirnya, ia menemukan jawabnya: ambisi. Weiskopf ingin menaikkan pamornya supaya dikenal sebagai jurnalis terhebat. Kini ia menyesal.

Ambisi adalah keinginan membara untuk sukses atau mencapai sesuatu yang lebih. Tak salah bila manusia berambisi. Bahkan, untuk memajukan gereja dibutuhkan pemimpin yang berambisi. Masalahnya, ke mana ambisi itu diarahkan? Yakobus dan Yohanes punya ambisi egois yang terarah pada diri sendiri. Mereka meminta Yesus kelak menempatkan mereka di posisi tertinggi (ayat 37). Menjadi yang terhebat. Pemegang kuasa. Mendengar permintaan itu, kesepuluh murid lain marah. Mengapa? Karena mereka pun mengincar kedudukan itu! Dari situ Yesus mengarahkan mereka agar memiliki ambisi yang terbaik: “meminum cawan yang harus Kuminum” (ayat 38). Ambisi untuk berkorban seperti Yesus. Menjadi hamba yang gigih melayani Tuhan dan sesama.

Dalam pelayanan, tidak salah kita memiliki ambisi, tetapi mesti hati-hati, sebab ambisi itu bagaikan api. Bisa menghangatkan, tetapi bisa juga menghanguskan. Ambisi egois menghasilkan perseteruan, sebaliknya ambisi yang kudus mempersatukan. Sudah benarkah arah ambisi Anda? Adakah Anda mencari hal-hal yang besar bagi Tuhan, atau bagi diri sendiri? -JTI


AMBISI YANG KUDUS
MERINDUKAN HAL-HAL BESAR BAGI KEMULIAAN ALLAH

Perubahan Hidup Yang Berkenan Bagi Allah

Ada beberapa perubahan hidup yang perlu kita mengerti, yakni:

1. Kita perlu merubah hal-hal yang dapat dirubah, yaitu:

a). Perkataan Yang Salah

b). Sifat Yang Buruk

c). Cara Berpikir Yang Salah

2. Kita patut bersyukur pada hal-hal yang tidak dapat dirubah.

a). Keadaan

b). Hati Orang Lain

c). Masa Lalu

3. Hikmat untuk berubah

———————————————————————————————————-

1. Kita perlu merubah hal-hal yang dapat dirubah, yaitu:

a). Perkataan Yang Salah

Perkataan yang sia-sia, perkataan yang tidak membangun, menyakitkan, menyudutkan, menghakimi dan lain-lain, hanya akan memperkeruh suasana dan menambahi masalah. 

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya” Ams 18:21 

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan amarah” Ams 15:1

Saat berhadapan dengan kemarahan, jawaban yang lemah lembut akan membuat rukun dan berdamai, sedangkan kata-kata yang keras akan  meningkatkan kemarahan, kebencian dan permusuhan.

Tentang kisah Daud, Nabal dan Abigail. Abigail oleh perkataannya dapat mencegah Daud yang hendak membunuh, karena membalaskan sikap dan perkataan Nabal suaminya yang kasar dan jahat itu

Lalu berkatalah Daud kepada Abigail’ “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencarikeadilan.” 1 Sam 25:32-33

Akhirnya Daud menyadari  kesalahannya yang telah merencanakan pembalasan sekejam itu.

Kita harus memiliki perkataan yang baik dan penuh kasih. Perkataan yang tidak membangkitkan amarah, tetapi  perkataan yang dapat meneduhkan dan menenangkan.

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” Ef 4:29

b). Sifat Yang Buruk

Beberapa sifat buruk yang harus terus kita perangi , antara lain:

  • Sikap yang egois, mementingkan diri sendiri, ambisi yang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri, angkuh dan sombong. “Tinggi hati mendahului kehancuran,  tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan” Ams 18:12.
  • Iri hati , yaitu benci dan cemburu akan keberhasilan orang lain. “Tetapi iri hati membusukkan tulang” Ams 14:30b.
  • Suka berselisih, bertengkar, menuduh dan menyalahkan orang lain. “Sebab jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi ?” 1 Kor 3:3.
  • Kedengkian, perasaan tidak suka terhadap orang lain yang memiliki sesuatu yang kita inginkan. “Ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga” 1 Tim 6:4.
  • Pemarah, cepat marah, suatu kemarahan yang meledak-ledak. “Si pemarah membangkitkan pertengkaran tetapi  orang sabar memadamkan perbantahan” Ams 15:18.
  • Mudah menyerah, mudah tersinggung, cepat putus asa, dan patah semangat, khawatir dan lain-lain. ”Kekhawatiran dalam hati membungkukkan orang” Ams 12:25a.

Kita  harus terus melawan dan mematikan tabiat yang membawa kepada dosa atau sifat yang buruk dalam diri kita. Kita harus memiliki buah-buah roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri  yang baik.

 

c). Cara Berpikir Yang Salah

Pikiran yang sia-sia, pikiran negatif, mudah cemas, takut, gelisah dan lain-lain. Pikiran adalah medan peperangan. Kalau kita biarkan pikiran kita dipenuhi dengan hal-hal yang buruk, maka kita akan cenderung melakukan seperti yang telah kita pikirkan. Tawanlah setiap pikiran seperti  itu, dan taklukkan kepada Firman Allah. Allah selalu memikirkan yang baik tentang kita.

Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh” Rom 8:5

Serahkanlah pikiran kita kepada Kristus supaya kita dapat memandang dan menilai segala perkara sesuai dengan cara pandang  Allah. Pikiran kita harus diselaraskan dengan cara Allah, yaitu dengan membaca dan merenungkan FirmanNya.

Dalam hatiku aku menyimpan janjiMu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau” Maz 119:11

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” Fil 4:8

Kalau pikiran kita dipenuhi dengan Firman Allah maka  hidup kita akan tenang, dan kita dapat mengalami damai sejahtera Allah.

.

2. Kita patut bersyukur pada hal-hal yang tidak dapat dirubah.

Hal-hal yang tidak dapat kita rubah ialah:

a). Keadaan

Kita tidak dapat merubah sebuah keadaan yang sedang terjadi. Sekalipun keadaan sedang sulit, buruk, kurang menyenangkan, tetaplah percaya pada Firman Tuhan. Tuhan takkan pernah biarkan dan tinggalkan kita. Jika kita tetap setia melakukan  Firman Allah, kita akan melihat kemenangan yang Tuhan telah sediakan bagi kita.

Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” 1 Kor 2:9

b). Hati Orang Lain

Kita tidak dapat merubah hati orang lain. Hati kita dapat kita ubah tetapi hati orang lain tidak. Mengapa  demikian? Karena bukan dengan memaksa kita dapat membuat hati orang lain berubah, melainkan dengan kesaksian kehidupan kita. Contoh seperti di atas, seorang isteri yang merindukan perubahan terhadap suami, dimulai terlebih dahulu dari perubahan dirinya. Rasul Paulus telah mengatakan bahwa kita adalah surat- surat Kristus yg terbuka, yang dapat dibaca dan dikenal oleh semua orang. (2 Korintus 3:2).

Sekalipun hati  seseorang itu  jahat pada kita, tetaplah lakukan kebaikan karena Firman Tuhan menghendaki agar kita berbuat baik kepada semua orang, bahkan kepada orang yang musuhi kita.

Kalau Tuhan berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh itupun didamaikanNya dengan dia” Ams 16:7

c). Masa Lalu

Kita tidak dapat merubah masa lalu. Mungkin masa lalu itu penuh dosa, begitu kelam, begitu pahit, telah merugikan, yang menyedihkan, menyakitkan dan mengecewakan. Yang sudah lalu itu biarlah berlalu. Kita tidak bisa lagi kembali  dan  perbaiki masa lalu itu.  Pandanglah  ke depan, dan berjalanlah bersama Tuhan, di dalam Tuhan ada pemulihan.

Rasul Paulus berbicara tentang hal ini, supaya kita melupakan semua yang kurang baik itu.

Aku melupakan apa yang telah dibelakangku, dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku” Fil 3:13b

Belajar dari masa lalu itu perlu, bahkan  kegagalan adalah guru terbaik. Hidup ini adalah sebuah proses dan belajar.  Yang perlu adalah kita harus mengarahkan diri  kepada  keselamatan yang sempurna dalam  Kristus.  Ingatlah, bahwa rancangan Tuhan selalu baik bagi kita.

Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang” Ams 23:18

.

3. Hikmat untuk berubah

Kita sangat memerlukan hikmat Tuhan untuk mengerti dan menyadari hal-hal mana yang perlu dirubah dalam kehidupan kita.  Apa  yang perlu kita perbaiki, hal-hal apa yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan menjadi lebih baik lagi, dalam hubungan dan komunikasi kita dengan suami, isteri, anak-anak, orangtua, teman kerja, tetangga kita dan lain sebagainya. Kita harus membenci  kejahatan dan melakukan yang benar dan menolak untuk melakukan aneka macam keduniawian, seperti  keserakahan , mementingkan diri, irihati, kebencian, dendam, kecemaran, kedursilaan, narkoba, minuman keras dan lain-lain. Semua ini hanya menjauhkan kita dari kasih Allah dan merugikan kita.

 

Bagaimana jika kita tidak dapat merubah sesuatu yang harus kita rubah? Kita perlu pertolongan dari Tuhan. Memang tiap-tiap orang itu berbeda, Allah telah memberikan karakter dan sifat yang berbeda bagi  tiap-tiap orang. Namun  sifat-sifat yang buruk, dan karakter-karakter yang buruk itu dapat dirubah, jika kita memohon kepada Allah untuk merubahnya. Hati yang keras dapat diubahkan, jika kita rela dan mau diubahkan. Kuncinya adalah miliki Firman Allah. Dengan memegang Firman Allah, kita dapat membedakan mana yang buruk dan yang baik, dan  kita dapat menguji segala sesuatu, apakah yang baik dan apakah yang berkenan bagi Allah untuk kita lakukan.

 

Sebab Allah berfirman; “Pada waktu aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau. Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” 2 Kor 6:2

Haleluya! Inilah waktu perkenanan Tuhan itu. Marilah berubah untuk melakukan semua hal yang berkenan bagi Allah. Marilah kita hidup berkenan bagi Allah, maka Ia akan mendengar setiap seruan doa kita. Tuhan selalu mau menjawab doa kita, jika kita hidup dalam firmanNya. Hidup yang berkenan bagi Allah adalah  memiliki hidup sesuai dengan Firman Tuhan.

Siapa mengejar kebenaran dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan” Ams 21:21

Selamat meyongsong tahun yang baru, dan meraih berkat yang baru dari Tuhan. Tuhan memberkati kita sekalian.

.

“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang  mendengarkan kata-kata nubuat ini,  dan y ang menuruti  apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat” Wahyu 1:3

Aku sedang tidak melakukan kebaikan hari ini.

Kok aku malas ya ke gereja? Ingin sekali merasakan bagaimana situasi jemaat mula-mula dulu, kemudian membandingkannya dengan keadaan yang sekarang.

Aku merasa aneh denganku, ketika melihat orang-orang yang beribadah ke gereja, "apa yang mereka cari? firman Tuhan? persekutuan? memberikan persembahan? atau pamer barang-barang bagus mereka?" gumamku dalam hati.

"Apakah aku stress? atau mengalami kepahitan dalam hidup" aku kembali bertanya dalam hati. Tidak sama sekali, aku normal, menurutku aku sehat, aku hanya berpikiran negatif tentang orang-orang yang tidak sesuai perbuatan dan perkataannya. Aku sedang menghakimi orang-orang sekelilingku dalam pikiranku dan aku terjebak didalamnya.

Aku bukanlah orang yang beriman kuat, prinsipku, surga yang dibicarakan banyak orang adalah milik mereka yang melakukan kebaikan untuk semua manusia dan Tuhan. Kebaikan itu jelas hanya satu; menjalankan kebenaran.

Dan jelas sekali, Aku sedang tidak melakukan kebaikan hari ini.

*Aku rindu lawatan Tuhan*