Akhirnya Aku Tersenyum (kembali)

Senyumanku dimulai saat penguji berkata: "Yaudah, mana yang harus saya tanda tangan?" yang menandakan kalau aku disetujui untuk maju ujian sidang besoknya. Hari itu tepat hari kamis, jam 10an, dimana tinggal satu dosen penguji yang belum menandatangani persetujuan untuk layak maju sidang. Dan, aku kembali tersenyum seperti dulu kala, walau tidak tahu apa yang akan terjadi besoknya (ujian sidang), tetapi setidaknya aku telah melangkah lebih jauh dari kemaren.

Hari sebelumnya (rabu), hatiku sangat galau, pikiranku kacau, aku takut kalau tidak disetujui dosen penguji untuk maju sidang, karena aku sangat ingin segera lulus dari kampusku tersebut, tapi aku takut tidak disetujui. Hal itu membuatku ingin marah, tetapi tidak tahu harus marah ke siapa. Ingin menangis, tapi air mata tak mau keluar. Keinginanku yang besar bersatu dengan ketakutanku yang besar pula. Sore itu (rabu), aku sengaja mencari angin dengan mengendarai motorku, rencanaku sih ingin mencari inspirasi, ingin melepaskan rasa penatku dengan kertas-kertas sisa revisian, dengan laptop, dengan program yang sebenarnya sudah sangat ingin ku ‘bakar’ karena bosan sekali. Tak tersadar penuh, aku tiba-tiba sampai di Lembang. Dan singgah di salah satu minimarket, lalu aku membeli sebotol kopi instan dingin; kesukaanku. Aku meminumnya, sambil berkata-kata dalam hati “Aku pasti bisa melewati ini semua”. Setelah itu, aku kembali pulang dan bernyanyi sepajang jalan Lembang- Bandung. Aku tak tahu lagu apa yang sedang aku lantunkan, tetapi menurutku, aku sedang menyanyikan lagu suara hatiku. Yang intinya adalah “Semua akan baik-baik saja”, sambil merasakan asap mobil, motor, yang ada didepanku.

Masih dihari yang sama, hari rabu malam, aku masih galau, masih kacau, tidak tahu harus berbuat apa. Aku memaksa diriku mengerjakan apa yang bisa aku kerjakan, dan aku hanya bisa merapikan margin penulisan skripsiku. Akhirnya, aku ketiduran.

Kamis pagi banget (subuh, jam 4), aku terbangun, kembali tidak tenang, kembali panik, karena tidak tahu apa yang akan terjadi nanti jam 10-nya. Aku mengerjakan sedikit skripsiku, lalu mencoba mengerti (menghafal) apa yang harus aku jelaskan nanti ke dosen pengujiku. "PASRAH" kata itu akhirnya mendamaikan hatiku, dan mengakhiri proses belajarku.

Jam 10 aku berangkat ke kampus, dengan jimatku si-"Pasrah", aku menyerahkan semuanya ke tangan penciptaku. Apa yang aku takutkan ternyata tidak terjadi, aku disetujui untuk maju sidang.

 

..Akhirnya, aku tersenyum (kembali). “Mak..aku sidang…mak!!”

Terimakasih

Speechless, terlalu banyak kata-kata yang ingin kuucapkan, akhirnya membuatku bingung ingin mengutarakan yg mana. Tapi sebagai seorang sarjana yang baru dinobatkan (sedikit sombong ngga apa-apa ya), aku harus bisa membuat dan mengambil keputusan, aku tidak bingung dan tidak speechless. 
 
Pertama aku sangat berterimakasih untuk kedua orang tuaku, yang sabar memiliki anak seperti aku. Aku bukanlah kriminal, bukan pecandu narkoba, aku hanya lama lulus kok. Terimakasih ayah ibu, kini anakmu lulus juga dari universitas dan berhasil menjadi seorang sarjana penuh (baca: tua). Dimana dulu kita pernah mempunyai rencana untuk pindah saja ke kampus abal-abal, agar lulusnya cepat, ternyata tidak jadi.
 
Bahagia banget bisa membuat kedua orang tua bahagia. Walaupun sebenarnya aku tidak tahu mereka bahagia beneran atau bahagia settingan. Yang jelas, mereka sabar banget mempunyai anak seperti aku dan tetap ngasih uang jajan hingga sekarang.
 
Yang kedua aku berterima kasih kepada teman-temanku. Teman seperjuangan, teman sepermainan, dan teman berbagi suka dan duka alias kekasih (maaf, aku bukan seorang jomblo).
 
Aku beruntung punya banyak teman seperjuangan, maksudku teman yang lulusnya lama, karena aku merasa “I NEVER WALK ALONE”, tapi mungkin gara-gara itu juga aku jadi lama lulusnya, ga tau juga sih. Terimakasihku untuk teman-teman seperjuanganku karena kami saling mendukung satu sama lain, baik dari segi motivasi maupun segi ‘bala bantuan’ yang bersifat nyata; melibatkan jiwa, raga, dan pikiran mereka. Selanjutnya terimakasihku kepada teman-teman sepermainanku, yang tidak bosan nanyain aku "kapan lulus? kapan sidang? kapan wisuda?" yang selalu berujung pada satu jawaban diplomatis: "Secepatnya.." dan berakhir pada sebuah perenungan yang panjang dalam pikiran "kapan ya aku lulus?".
 
Terimakasihku juga kepada yang setia menemaniku saat sedih, susah, sulit, susah, sulit, sedih, susah dan stress, ujian pertama kamu sudah lulus beb..*muach*. Terimakasih bukan karena aku telah lulus sekarang, tetapi karena kamu setia menemaniku saat melewati semua kesusahanku. Sekarang deh aku berterimakasih atas cerewetmu itu, yang bunyinya selalu saja membuatku galau "Bang…ayo kerjakan skripsinya, biar cepat kelar, cepat lulus, cari kerja.." Sekarang, aku sudah lulus madu (baca: honey), pekerjaanku sekarang adalah job seeker. Aku menunggu cerewetmu yang lain, "bang… ayo nikah", hahaha..becanda deng.
 
Bahagia dengan semua yang telah terlewati dan akan ada tantangan baru yang mungkin lebih berat atau ringan. (who nose? hidung siapa) siapa yang tahu? Semoga keberuntungan menyertaiku, juga menyertaimu wahai orangtuaku, sahabatku, kekasihku. Semoga keberuntungan ada di pihak kita semua. Amin.
 
"Aku bersyukur telah mendapat kesusahan-kesusahan yang mengajarkan arti orang tua, arti sahabat, arti kekasih." 

Kopi dan Gula

Cinta mungkin tak akan pernah basi untuk dibahas disegala jaman. Yang paling menarik adalah ketika kita jatuh cinta, ada sebuah perasaan yang menggebu-gebu, yang membuat kita bersemangat, tersenyum, dan berbahagia.

Masa-masa paling indah itu masa-masa remaja, karena masa itu masa-masa jatuh cinta. Yang tidak mempedulikan bibit, bebet, bobot seseorang untuk dicintai. Dan kita sering menyebutnya cinta monyet. Cinta yang timbul dari perasaan sesaat. Tapi sungguh menyenangkan.

Semakin berumur, cinta itu semakin kompleks. Apalagi jika ingin membina sebuah keluarga: “Ma, aku mencintai dia…” “Tapi nak.. kamu yakin bisa hidup hanya bermodalkan cinta?” ….. ada benarnya si emak, tak cukup cinta menjadi modal untuk sebuah rumah tangga. Karena hidup butuh uang, dan secara umum uang dihasilkan dari sebuah pekerjaan, dan pekerjaan bergantung kepada pendidikan seseorang, pendidikan seseorang bergantung kepada asal usul sekolahnya..sungguh sebuah rantai yang rumit untuk memulai sebuah rumah tangga, edisi mama. #SecaraUmum.

Selain itu, masih ada hal yang membuat cinta tidak bisa bersatu; perbedaan agama. Jika saja cinta itu adalah agama, maka tak akan ada lagi perbedaan. Tapi kita manusia memiliki otak yang kecil untuk memikirkan kuasa Tuhan yang besar, logika yang terbatas untuk memikirkan rahasia Tuhan yang tak terbatas…”Mengapa Tuhan menciptakan perbedaan?” begitulah kira-kira kita bertanya dalam benak kita, sembari merenungi adanya kisah perbedaan yang tak menyatukan cinta.

Stop sampai disini, cinta itu sederhana, seperti cinta ibu kepada anaknya. Cinta itu sesederhana kopi ketemu gula dan mereka larut dalam air panas. Tetapi yang membuat cinta menjadi rumit adalah keegosentrisan.

Bersyukur

Semua orang ingin masa depan yang cerah. Cerah yang dimaksud adalah punya rumah, mobil, keluarga, pekerjaan yang pantas, uang yang cukup, dll. Orang-orang bekerja dan berdoa agar mempunyai masa depan yang cerah. 

Lantas bagaimana jika kita tidak mendapatkan masa depan yang cerah itu? tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Apakah kita tidak bersyukur dengan nafas yang masih tersisa? Apakah kita tidak bersyukur saat (masih) bisa bangun pagi? 

Selama kita (masih) bisa bernafas, selama itu juga kita harus(nya) bisa bersyukur karena kita masih bernafas. 

Ketidakpuasaan terhadap hidup membuat saya (kita) sulit bersyukur. Sangat susah mengatakan terimakasih kepada Tuhan, saat saya (kita) merasa diperlakukan tidak adil dalam hidup ini. Saya menempatkan logika memikirkan kehidupan ini. Padahal Tuhan sendiri menciptakan kita bukan dengan logika, melainkan dengan firman-NYA. (bagi orang percaya)

Saya percaya tidak setiap keinginan saya sesuai kehendak Tuhan dan saya yakini setiap yang terjadi dalam hidup saya bukanlah sebuah kebetulan. Jika hidupku ditakdirkan menjadi orang sukses, aku bersyukur akan hal itu. Jika hidupku ditakdirkan (yang menurut orang-orang) tidak sukses, aku juga bersyukur telah diberi kesempatan merasakan kehidupan.

Rendah Hati

Ketika kamu tidak mengakui keberadaan dirimu, tidak menerima dirimu apa adanya, tidak menghargai hidupmu, saat itulah kamu sedang tinggi hati. Saat kamu tinggi hati, sebenarnya merendahkan dirimu sendiri. Dan saat kamu merendahkan dirimu, kamu juga sedang tinggi hati. 

Tetapi orang yang menghargai dirinya adalah orang yang mempunyai kerendahan hati. Orang yang rendah hati itu penyabar, menghargai dirinya sendiri dan orang lain. Orang yang rendah hati itu terlihat dari sikap dan perbuatannya yang semuanya dipertimbangkan dengan baik dan benar. 

Kerendahan hati akan meninggikanmu, ketinggian hati akan merendahkan dirimu.

Mendengar

Coba bayangkan aku berada diantara kamu dan dia, kita sekarang tiga orang. Kamu menceritakan tentang indahnya pemandangan di puncak Mount Everest, yang kamu kunjungi tahun lalu. Kemudian dia menceritakan pengalamannya saat liburan ke Paris. Sekarang, Aku telah mendengar dua cerita, aku sekarang tau Mount Everest dan Kota Paris. Kamu dan dia masing-masing mendengar satu cerita dan menceritakan satu cerita.

Jika aku tidak bercerita ke kamu dan ke dia, aku beruntung dalam hal pembicaraan kita hari ini. Aku mendapat dua pengetahuan dari kamu dan dia hanya dengan mendengar tanpa berbicara.

Hanya dengan mendengar aku bisa tahu banyak hal, belum lagi jika aku melihat dan atau merasakannya dengan seluruh inderaku. Itulah untungnya mendengar.

Jadi kamu pilih mana? Banyak mendengar atau banyak berbicara?

Aku Pun Bertanya…

Malam adalah sahabat terbaik untuk mahasiswa tingkat akhir. Selain suasananya hening, udaranya juga dingin, ditambah lagi kalau misalnya ada makanan ringan yang turut mensponsori kegiatan rutin tiap malam; begadang, sudah barang tentu meriah.

Ntah mengapa, malam selalu punya cerita yang sama bagiku. Susah tidur, lapar, dan begadang. Hal yang paling sering kulakukan adalah online internet, memasuki area anak gaul jaman sekarang, dimana lagi kalau bukan di twitter dan facebook. Rasanya satu jam mengoyang-goyang mouse, klik kanan-klik kiri sangatlah singkat. Tiba-tiba *cling* sudah sejam aja. Hasilnya hanyalah berupa pengetahuan tentang teman-teman yang jadian, yang putus, yang kawin, yang jalan-jalan, yang makan dimana, yang foto bareng sama siapa, dan hal-hal yang dianggap tabu, tidak layak diperbincangkan juga ada. Apakah malam memang identik dengan mahasiswa tingkat akhir? Ataukah mahasiswa tingkat akhir memang mengalami disorientasi saraf? aku pun bertanya pada laptop, tapi laptop tak mendengar.

Yang kuceritakan sebelumnya adalah malam-malam biasa. Karena malam spesial itu adalah malam minggu dan malam senin. Dimana stasiun TV menyiarkan acara langsung pertandingan sepak bola. Jujur sebelum menyandang gelar “mahasiswa tingkat akhir disayang Tuhan”, aku tidak suka nonton sepakbola, aku lebih suka nonton sinetron Cinta Fitri atau realiti show semacam termehek-mehek. Ntah kenapa, setelah masa-masa sulitku datang, aku justru suka sepakbola, Apakah aku terhipnotis omongan publik, “Lelaki sejati itu nonton bola dan makan kacang Garuda”, atau mungkinkah ini dinamakan pelarian? aku pun bertanya pada galon yang hampir kosong, tapi si galon kosong tak menjawab. 

Aku berharap suatu malam nanti bertanya pada isteriku “Ma, sudah jam berapa sekarang?” mudah-mudahan laptop tidak menjawabnya. Itulah harapanku malam ini. Semoga galon kosong tidak mendengar ceritaku ini.