Your web-browser is very outdated, and as such, this website may not display properly. Please consider upgrading to a modern, faster and more secure browser. Click here to do so.
Cinta mungkin tak akan pernah basi untuk dibahas disegala jaman. Yang paling menarik adalah ketika kita jatuh cinta, ada sebuah perasaan yang menggebu-gebu, yang membuat kita bersemangat, tersenyum, dan berbahagia.
Masa-masa paling indah itu masa-masa remaja, karena masa itu masa-masa jatuh cinta. Yang tidak mempedulikan bibit, bebet, bobot seseorang untuk dicintai. Dan kita sering menyebutnya cinta monyet. Cinta yang timbul dari perasaan sesaat. Tapi sungguh menyenangkan.
Semakin berumur, cinta itu semakin kompleks. Apalagi jika ingin membina sebuah keluarga: “Ma, aku mencintai dia…” “Tapi nak.. kamu yakin bisa hidup hanya bermodalkan cinta?” ….. ada benarnya si emak, tak cukup cinta menjadi modal untuk sebuah rumah tangga. Karena hidup butuh uang, dan secara umum uang dihasilkan dari sebuah pekerjaan, dan pekerjaan bergantung kepada pendidikan seseorang, pendidikan seseorang bergantung kepada asal usul sekolahnya..sungguh sebuah rantai yang rumit untuk memulai sebuah rumah tangga, edisi mama. #SecaraUmum.
Selain itu, masih ada hal yang membuat cinta tidak bisa bersatu; perbedaan agama. Jika saja cinta itu adalah agama, maka tak akan ada lagi perbedaan. Tapi kita manusia memiliki otak yang kecil untuk memikirkan kuasa Tuhan yang besar, logika yang terbatas untuk memikirkan rahasia Tuhan yang tak terbatas…”Mengapa Tuhan menciptakan perbedaan?” begitulah kira-kira kita bertanya dalam benak kita, sembari merenungi adanya kisah perbedaan yang tak menyatukan cinta.
Stop sampai disini, cinta itu sederhana, seperti cinta ibu kepada anaknya. Cinta itu sesederhana kopi ketemu gula dan mereka larut dalam air panas. Tetapi yang membuat cinta menjadi rumit adalah keegosentrisan.
1 note View comments
Sadarlah kalian hanya fans, idola kalian tidak sempurna selama idola kalian bukan Tuhan.
Sadarlah, tidak baik memuja-muja manusia, benda, atau hal-hal di bumi yg bukan Tuhan.
Hendaknya kita lebih mencintai Pencipta kita daripada mencintai sesama hasil ciptaan.
Hai manusia, aku dan kamu. Jangan lebay menjadi fans.
2 notes View comments
Semua orang ingin masa depan yang cerah. Cerah yang dimaksud adalah punya rumah, mobil, keluarga, pekerjaan yang pantas, uang yang cukup, dll. Orang-orang bekerja dan berdoa agar mempunyai masa depan yang cerah.
Lantas bagaimana jika kita tidak mendapatkan masa depan yang cerah itu? tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Apakah kita tidak bersyukur dengan nafas yang masih tersisa? Apakah kita tidak bersyukur saat (masih) bisa bangun pagi?
Selama kita (masih) bisa bernafas, selama itu juga kita harus(nya) bisa bersyukur karena kita masih bernafas.
Ketidakpuasaan terhadap hidup membuat saya (kita) sulit bersyukur. Sangat susah mengatakan terimakasih kepada Tuhan, saat saya (kita) merasa diperlakukan tidak adil dalam hidup ini. Saya menempatkan logika memikirkan kehidupan ini. Padahal Tuhan sendiri menciptakan kita bukan dengan logika, melainkan dengan firman-NYA. (bagi orang percaya)
Saya percaya tidak setiap keinginan saya sesuai kehendak Tuhan dan saya yakini setiap yang terjadi dalam hidup saya bukanlah sebuah kebetulan. Jika hidupku ditakdirkan menjadi orang sukses, aku bersyukur akan hal itu. Jika hidupku ditakdirkan (yang menurut orang-orang) tidak sukses, aku juga bersyukur telah diberi kesempatan merasakan kehidupan.
1 note View comments
Ketika kamu tidak mengakui keberadaan dirimu, tidak menerima dirimu apa adanya, tidak menghargai hidupmu, saat itulah kamu sedang tinggi hati. Saat kamu tinggi hati, sebenarnya merendahkan dirimu sendiri. Dan saat kamu merendahkan dirimu, kamu juga sedang tinggi hati.
Tetapi orang yang menghargai dirinya adalah orang yang mempunyai kerendahan hati. Orang yang rendah hati itu penyabar, menghargai dirinya sendiri dan orang lain. Orang yang rendah hati itu terlihat dari sikap dan perbuatannya yang semuanya dipertimbangkan dengan baik dan benar.
Kerendahan hati akan meninggikanmu, ketinggian hati akan merendahkan dirimu.
1 note View comments
Coba bayangkan aku berada diantara kamu dan dia, kita sekarang tiga orang. Kamu menceritakan tentang indahnya pemandangan di puncak Mount Everest, yang kamu kunjungi tahun lalu. Kemudian dia menceritakan pengalamannya saat liburan ke Paris. Sekarang, Aku telah mendengar dua cerita, aku sekarang tau Mount Everest dan Kota Paris. Kamu dan dia masing-masing mendengar satu cerita dan menceritakan satu cerita.
Jika aku tidak bercerita ke kamu dan ke dia, aku beruntung dalam hal pembicaraan kita hari ini. Aku mendapat dua pengetahuan dari kamu dan dia hanya dengan mendengar tanpa berbicara.
Hanya dengan mendengar aku bisa tahu banyak hal, belum lagi jika aku melihat dan atau merasakannya dengan seluruh inderaku. Itulah untungnya mendengar.
Jadi kamu pilih mana? Banyak mendengar atau banyak berbicara?
1 note View comments
Malam adalah sahabat terbaik untuk mahasiswa tingkat akhir. Selain suasananya hening, udaranya juga dingin, ditambah lagi kalau misalnya ada makanan ringan yang turut mensponsori kegiatan rutin tiap malam; begadang, sudah barang tentu meriah.
Ntah mengapa, malam selalu punya cerita yang sama bagiku. Susah tidur, lapar, dan begadang. Hal yang paling sering kulakukan adalah online internet, memasuki area anak gaul jaman sekarang, dimana lagi kalau bukan di twitter dan facebook. Rasanya satu jam mengoyang-goyang mouse, klik kanan-klik kiri sangatlah singkat. Tiba-tiba *cling* sudah sejam aja. Hasilnya hanyalah berupa pengetahuan tentang teman-teman yang jadian, yang putus, yang kawin, yang jalan-jalan, yang makan dimana, yang foto bareng sama siapa, dan hal-hal yang dianggap tabu, tidak layak diperbincangkan juga ada. Apakah malam memang identik dengan mahasiswa tingkat akhir? Ataukah mahasiswa tingkat akhir memang mengalami disorientasi saraf? aku pun bertanya pada laptop, tapi laptop tak mendengar.
Yang kuceritakan sebelumnya adalah malam-malam biasa. Karena malam spesial itu adalah malam minggu dan malam senin. Dimana stasiun TV menyiarkan acara langsung pertandingan sepak bola. Jujur sebelum menyandang gelar “mahasiswa tingkat akhir disayang Tuhan”, aku tidak suka nonton sepakbola, aku lebih suka nonton sinetron Cinta Fitri atau realiti show semacam termehek-mehek. Ntah kenapa, setelah masa-masa sulitku datang, aku justru suka sepakbola, Apakah aku terhipnotis omongan publik, “Lelaki sejati itu nonton bola dan makan kacang Garuda”, atau mungkinkah ini dinamakan pelarian? aku pun bertanya pada galon yang hampir kosong, tapi si galon kosong tak menjawab.
Aku berharap suatu malam nanti bertanya pada isteriku “Ma, sudah jam berapa sekarang?” mudah-mudahan laptop tidak menjawabnya. Itulah harapanku malam ini. Semoga galon kosong tidak mendengar ceritaku ini.
View comments
Tak ada gunanya marah tanpa alasan. Tak ada baiknya marah tanpa sebab. Amarah hanya membuatmu sulit dimengerti, amarah menyakiti perasaan yang lain, membutakan mata hatimu, menutup pintu kebaikan, dan jika nanti kau tidak marah lagi, penyesalan datang.
Marah itu biasa, tetapi sering marah itu tidak baik. Marah itu normal, tetapi jika sering marah itu membuat wajahmu semakin keriput, membuat orang sekelilingmu takut. Bahkan dirimu sendiri pun tak mengerti siapa dirimu sebenarnya.
Marahmu bisa membuat air mata temanmu terjatuh. Marahmu bisa membuat hubunganmu dengan temanmu retak. Marahmu bisa membuat telingamu menjadi tuli, mulutmu menjadi bisu, dan membuatmu ringan tangan.
Jangan marah tanpa sebab, jangan marah membabi buta. Aku hanya mengingatkan diriku dan dirimu yang sering marah tanpa alasan, tanpa sebab.
View comments
Kok aku malas ya ke gereja? Ingin sekali merasakan bagaimana situasi jemaat mula-mula dulu, kemudian membandingkannya dengan keadaan yang sekarang.
Aku merasa aneh denganku, ketika melihat orang-orang yang beribadah ke gereja, “apa yang mereka cari? firman Tuhan? persekutuan? memberikan persembahan? atau pamer barang-barang bagus mereka?” gumamku dalam hati.
“Apakah aku stress? atau mengalami kepahitan dalam hidup” aku kembali bertanya dalam hati. Tidak sama sekali, aku normal, menurutku aku sehat, aku hanya berpikiran negatif tentang orang-orang yang tidak sesuai perbuatan dan perkataannya. Aku sedang menghakimi orang-orang sekelilingku dalam pikiranku dan aku terjebak didalamnya.
Aku bukanlah orang yang beriman kuat, prinsipku, surga yang dibicarakan banyak orang adalah milik mereka yang melakukan kebaikan untuk semua manusia dan Tuhan. Kebaikan itu jelas hanya satu; menjalankan kebenaran.
Dan jelas sekali, Aku sedang tidak melakukan kebaikan hari ini.
*Aku rindu lawatan Tuhan*
View comments
Page 1 of 2