Kita tercipta berbeda untuk saling menghargai.

Semakin banyak saja yang tidak penting di twitter itu. Apakah terlalu banyak manusia sekarang yang berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu? Sehingga dengan mudahnya mereka memberikan sesuatu yang tidak bernilai untuk orang lain, misalnya saja; “Aduhh… ngantuk”.

Tapi… kalo dipikir-pikir, kamu yang salah, karena tidak bisa menerima kebebasan berekspresi. Terserah orang mau membagikan apapun asalkan tidak mengganggu ketertiban umum. Jika hanya kamu yang merasa terganggu berarti mungkin kamu ada masalah dengan orang tersebut. Koreksi dirimu.

Kepentingan setiap orang berbeda, kadang penting menurutmu, tidak penting menurut orang lain, dan sebaliknya. Karena itu manusia harus saling menghargai. Pikiran terbukalah yang mampu menerima perbedaan.

Jangan merasa diri sendiri paling benar. Hargailah pendapat orang lain, walaupun kau merasa pendapatnya itu tidak berharga sama sekali.

(Dan aku menyudahi percakapanku dengan teman setiaku; hatiku)

Aku Pun Bertanya…

Malam adalah sahabat terbaik untuk mahasiswa tingkat akhir. Selain suasananya hening, udaranya juga dingin, ditambah lagi kalau misalnya ada makanan ringan yang turut mensponsori kegiatan rutin tiap malam; begadang, sudah barang tentu meriah.

Ntah mengapa, malam selalu punya cerita yang sama bagiku. Susah tidur, lapar, dan begadang. Hal yang paling sering kulakukan adalah online internet, memasuki area anak gaul jaman sekarang, dimana lagi kalau bukan di twitter dan facebook. Rasanya satu jam mengoyang-goyang mouse, klik kanan-klik kiri sangatlah singkat. Tiba-tiba *cling* sudah sejam aja. Hasilnya hanyalah berupa pengetahuan tentang teman-teman yang jadian, yang putus, yang kawin, yang jalan-jalan, yang makan dimana, yang foto bareng sama siapa, dan hal-hal yang dianggap tabu, tidak layak diperbincangkan juga ada. Apakah malam memang identik dengan mahasiswa tingkat akhir? Ataukah mahasiswa tingkat akhir memang mengalami disorientasi saraf? aku pun bertanya pada laptop, tapi laptop tak mendengar.

Yang kuceritakan sebelumnya adalah malam-malam biasa. Karena malam spesial itu adalah malam minggu dan malam senin. Dimana stasiun TV menyiarkan acara langsung pertandingan sepak bola. Jujur sebelum menyandang gelar “mahasiswa tingkat akhir disayang Tuhan”, aku tidak suka nonton sepakbola, aku lebih suka nonton sinetron Cinta Fitri atau realiti show semacam termehek-mehek. Ntah kenapa, setelah masa-masa sulitku datang, aku justru suka sepakbola, Apakah aku terhipnotis omongan publik, “Lelaki sejati itu nonton bola dan makan kacang Garuda”, atau mungkinkah ini dinamakan pelarian? aku pun bertanya pada galon yang hampir kosong, tapi si galon kosong tak menjawab. 

Aku berharap suatu malam nanti bertanya pada isteriku “Ma, sudah jam berapa sekarang?” mudah-mudahan laptop tidak menjawabnya. Itulah harapanku malam ini. Semoga galon kosong tidak mendengar ceritaku ini.

Mengapa banyak yang mengeluh tentang hidup?

Padahal hidup itu bisa dianggap sebagai sebuah permainan. Permainan yang mempunyai aturan; kalau dilanggar dapat hukuman. Kalau taat aturan, terhindar dari hukuman. 

Hidup bisa dianggap sebagai sebuah gelas. Gelas yang bisa kita isi air, lalu kita beri sedikit gula, atau kita mengosongkannya. Selama kita punya gelas, kita bebas mengisinya apa saja, sesuai selera.

Hidup bisa dianggap sebagai sebuah keset. Walau tampak tidak terhormat, selalu diinjak, bahkan sering harus kotor dan memang harus kotor, tapi dia berguna. 

Mengapa banyak yang mengeluh tentang hidup? Hidup yang hanya sekali, seharusnya kita bisa memainkannya bagai sebuah permainan. Kita isi dengan kisah yang manis. Walau terkadang dalam hidup kita harus dibawah seperti keset, diinjak, kotor dan tersakiti, setidaknya kita hidup berguna.

Tentang Amarah

Tak ada gunanya marah tanpa alasan. Tak ada baiknya marah tanpa sebab. Amarah hanya membuatmu sulit dimengerti, amarah menyakiti perasaan yang lain, membutakan mata hatimu, menutup pintu kebaikan, dan jika nanti kau tidak marah lagi, penyesalan datang.

Marah itu biasa, tetapi sering marah itu tidak baik. Marah itu normal, tetapi jika sering marah itu membuat wajahmu semakin keriput, membuat orang sekelilingmu takut. Bahkan dirimu sendiri pun tak mengerti siapa dirimu sebenarnya.

Marahmu bisa membuat air mata temanmu terjatuh. Marahmu bisa membuat hubunganmu dengan temanmu retak. Marahmu bisa membuat telingamu menjadi tuli, mulutmu menjadi bisu, dan membuatmu ringan tangan.

Jangan marah tanpa sebab, jangan marah membabi buta. Aku hanya mengingatkan diriku dan dirimu yang sering marah tanpa alasan, tanpa sebab. 

Aku sedang tidak melakukan kebaikan hari ini.

Kok aku malas ya ke gereja? Ingin sekali merasakan bagaimana situasi jemaat mula-mula dulu, kemudian membandingkannya dengan keadaan yang sekarang.

Aku merasa aneh denganku, ketika melihat orang-orang yang beribadah ke gereja, "apa yang mereka cari? firman Tuhan? persekutuan? memberikan persembahan? atau pamer barang-barang bagus mereka?" gumamku dalam hati.

"Apakah aku stress? atau mengalami kepahitan dalam hidup" aku kembali bertanya dalam hati. Tidak sama sekali, aku normal, menurutku aku sehat, aku hanya berpikiran negatif tentang orang-orang yang tidak sesuai perbuatan dan perkataannya. Aku sedang menghakimi orang-orang sekelilingku dalam pikiranku dan aku terjebak didalamnya.

Aku bukanlah orang yang beriman kuat, prinsipku, surga yang dibicarakan banyak orang adalah milik mereka yang melakukan kebaikan untuk semua manusia dan Tuhan. Kebaikan itu jelas hanya satu; menjalankan kebenaran.

Dan jelas sekali, Aku sedang tidak melakukan kebaikan hari ini.

*Aku rindu lawatan Tuhan*