Jangan Batasi Dirimu

Kalau sedari dulu semua orang berpikir realistis, ga akan tercipta sesuatu yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin terjadi, seperti telepon, listrik, televisi, pesawat terbang, dll.

Kaum realistis hanya percaya terhadap hal-hal yang sudah ada. Tetapi pemikiran besar melebihi pemikiran realistis, karena para pemikir besar mempunyai sebuah keyakinan (iman) terhadap hal-hal yang tidak/belum ada atau belum terlihat oleh indra penglihatan.

Para pemikir besar telah menciptakan ponsel, yang sebelumnya tak dipercayai para pemikir realistis.

Awalnya kau akan dikatakan gila saat bercita-cita ingin bercocok tanam di planet Mars sampai keinginanmu itu terjadi.

Kau yang mana? Kaum realis atau pemikir besar? Jika pikiranmu sering membatasi dirimu, kau adalah kaum realis. Jika kau punya keyakinan menjadi seorang presiden RI, kau adalah seorang pemikir besar. Karena bagi kaum realis, hatinya berkata “sudahlah, ingat siapa dirimu, gak mungkin presiden RI sepertimu. Apalagi peluang menjadi presiden itu satu banding 200juta”. Tetapi pemikir besar punya pemikiran lain, hatinya berkata “Nothing is impossible, I’m possible”.

Berserah atau Menyerah?

Bagi kebanyakan orang, percaya bahwa rejeki memang sudah ada yang mengatur. Ada yang mengartikannya; “Mau kerja sekeras apapun, kalau memang rejekinya pasti dapat. Kalau ngga rejeki, ga akan dapat”. Kemudian aku mendengar pendapat sebagian orang lagi, mereka mengartikan rejeki itu seperti prinsip peluang “Semakin banyak kau menabur benih, peluang berhasil tuaianmu semakin banyak”.

Aku setuju dengan kedua pendapat tersebut. Namun yang harus ditekankan adalah lakukan apa yang menjadi bagianmu sisanya Tuhan yang menyelesaikan. Logika bisa membuat kita jatuh, iman bisa membuat kita bangkit. Untuk menjadi bijak, kita harus tahu kapan berserah dan kapan harus menyerah.

The Past Will Never Return. 

Dua tahun lalu, tepatnya 31 Desember 2011 menjelang 1 Januari 2012 sekelompok mahasiswa pecinta makanan, mereka adalah Kris, Supri, Lemon, Gio dan Agita sepakat pergi ke sebuah tempat, nama tempatnya Cartil. Banyak orang disana terlihat kedinginan karena memang dingin dan sudah tengah malam. Semuanya bersiap menyambut tahun baru. 

Tepat pukul 00.00 WIB suasana menjadi riuh, meriahnya suara trompet dimana-mana dihiasi kembang api meroket ke langit lalu memancarkan cahaya seperti bunga, cerahnya cuaca malam itu seakan setuju jika malam itu adalah malam pergantian tahun. Manusia yang hadir disitu seperti tidak ada yang bersedih, semua seperti gembira bisa melewati malam itu dengan kemeriahan.

Begitu juga dengan mahasiswa pecinta makanan itu, mereka tampak bahagia dan kelihatan seperti berbisik dihati masing-masing menyusun resolusi tahun barunya. Salah satunya yang jelas adalah ingin lulus dari perkuliahan mereka, dan resolusi yang lain-lainnya tidak bisa ditebak, biarkan saja waktu yang menjawab.

Waktu itu sudah berlalu dua tahun. Kini mereka sudah berjauh-jauhan dengan cerita hidup yang semakin banyak tentu dengan umur yang semakin matang juga. Suatu saat jika mereka bertemu lagi, pasti akan mengenang cerita Cartil 2012. :-)

The Past Will Never Return.

Dua tahun lalu, tepatnya 31 Desember 2011 menjelang 1 Januari 2012 sekelompok mahasiswa pecinta makanan, mereka adalah Kris, Supri, Lemon, Gio dan Agita sepakat pergi ke sebuah tempat, nama tempatnya Cartil. Banyak orang disana terlihat kedinginan karena memang dingin dan sudah tengah malam. Semuanya bersiap menyambut tahun baru.

Tepat pukul 00.00 WIB suasana menjadi riuh, meriahnya suara trompet dimana-mana dihiasi kembang api meroket ke langit lalu memancarkan cahaya seperti bunga, cerahnya cuaca malam itu seakan setuju jika malam itu adalah malam pergantian tahun. Manusia yang hadir disitu seperti tidak ada yang bersedih, semua seperti gembira bisa melewati malam itu dengan kemeriahan.

Begitu juga dengan mahasiswa pecinta makanan itu, mereka tampak bahagia dan kelihatan seperti berbisik dihati masing-masing menyusun resolusi tahun barunya. Salah satunya yang jelas adalah ingin lulus dari perkuliahan mereka, dan resolusi yang lain-lainnya tidak bisa ditebak, biarkan saja waktu yang menjawab.

Waktu itu sudah berlalu dua tahun. Kini mereka sudah berjauh-jauhan dengan cerita hidup yang semakin banyak tentu dengan umur yang semakin matang juga. Suatu saat jika mereka bertemu lagi, pasti akan mengenang cerita Cartil 2012. :-)

Gedung tua ini masih saja berdiri teguh di Bumi Parahyangan. Kemarin malam, sengaja datang kesini untuk memotret gedung ini. Gedung ini adalah icon Universitas Pendidikan Indonesia, terlihat dari setiap tahun, gedung ini selalu menjadi cover kalender dan buku kurikulum UPI.

Di hari libur, sering ada sesi pemotretan berlatar belakang gedung ini, entah itu prawedding atau hanya sekedar menyalurkan hobby photograpy para pelaku jeprat-jepret.

Gedung tua ini masih saja berdiri teguh di Bumi Parahyangan. Kemarin malam, sengaja datang kesini untuk memotret gedung ini. Gedung ini adalah icon Universitas Pendidikan Indonesia, terlihat dari setiap tahun, gedung ini selalu menjadi cover kalender dan buku kurikulum UPI.

Di hari libur, sering ada sesi pemotretan berlatar belakang gedung ini, entah itu prawedding atau hanya sekedar menyalurkan hobby photograpy para pelaku jeprat-jepret.

Hari ini jalan-jalan ke Giggle Box. Ternyata disana ada makanan dan minuman tapi tidak gratis. Akhirnya kita memesan makan dan minum seperti terlihat pada foto ini.

Suasana cafenya nyaman, desain interiornya beda, tidak seperti cafe resto yang sering saya kunjungi (baca: warteg) kalau tidak percaya lihat aja fotonya.

Di Bandung ada beberapa GiggleBox, ada di Setiabudi, Cihampelas, dll. (Lihat gambar, ada alamatnya). Untuk yang difoto, ini GiggleBox di Jl. Setiabudi tidak jauh dari Rumah Mode sebelum pom bensin.

Bagi yang suka makan, terus foto narsis, tempat ini sangat cocok. Apalagi harganya ramah lingkungan. Mulai belasan ribu hingga puluhan ribu.

Gatau judulnya…

Berawal dari tweet tentang Lionel Messi yang berpacaran dengan seorang perempuan dan sudah punya anak satu, dan kehidupan mereka sederhana walau gaji pesepak bola itu 2 milyar rupiah per pekan, tapi pakaian yang dikenakan pacarnya itu mulai dari bawah hingga ke atas hanya senilai sekitar 3.5 juta RUPIAH (bukan dolar). Dan kekasihnya itu juga bukan orang miskin, tapi seorang model.

Tapi masalahnya kemudian bukan disitu, melainkan, mereka belum menikah, masih berpacaran tapi sudah tinggal serumah dan sudah punya anak. Kalau di Indonesia sih itu gak boleh, karena kita punya adat, norma, agama, yang tidak memperbolehkan “kumpul kebo”. Jadilah di Indonesia itu budaya kawin-cerai. Menikah supaya ada surat dan tidak tabu, tidak melanggar norma, adat, agama, dan tidak malu. Dan kemudian tidak cinta lagi, lalu cerai, alasannya tidak sepaham lagi atau sudah tidak cocok lagi. Lalu untuk apa menikah jika hanya ingin mendapatkan surat nikah? Bukankah lebih baik dianggap melanggar norma, adat, bahkan agama, tetapi setia mencintai? Setia hidup bersama.

Menikah itu untuk mendapat pengakuan memiliki seseorang, tetapi mencintai itu tidak butuh surat. Tiba-tiba teringat Yusuf dan Maria yang bertunangan dan punya anak. Tunangan kan belum pake surat, tapi sudah hamil duluan, nah lho..!

Hidup ini sih hak masing-masing, tapi kalau menikah lalu cerai lagi, mending tidak menikah (pacaran saja) tapi punya anak, hidup bersama penuh kasih bersama pacar dan anak-anak, walau kata orang kumpul kebo, itu lebih baik daripada kawin-cerai. Namun yang paling baik diantaranya hanyalah menikah lalu beranak dan tidak boleh cerai hingga maut yang memisahkan.

PRIA DI CINA TEWAS AKIBAT LAMA MENUNGGU PACAR BELANJA

Buat cewe-cewe nih, kalau belanja jangan lama-lama ya. Kalau mau lama, jangan ajak pacar, nanti kalau kelamaan pacarnya bisa tewas. Soalnya udah ada buktinya. Nih buktinya;

Seorang pria asal Jiangsu bernama Tao Hsiao yang menemani pacarnya belanja hingga menghabiskan waktu selama lima jam lamanya di mall. Sang pacar memang suka belanja dan ‘lapar mata’ dalam sebuah butik. Setelah lama menemani sang pacar berbelanja, Tao Hsiao berniat mengajak sang pacar pulang. Namun ia justru mendapatkan bentakan dan sang pacar tetap ingin belanja di satu tempat lagi lantaran ada diskon di tempat tersebut. 

Tao mengatakan pada pacarnya bahwa sudah banyak sepatu yang digunakan, bahkan untuk digunakan dalam setahun. Mendengar pernyataan Tao, sang pacar kembali membentak. Menurut saksi mata, sebenarnya Tao dan pacarnya sudah belanja banyak barang. Ada banyak tas belanja yang dibawa oleh Tao.

Mereka pun akhirnya bertengkar hebat. Akhirnya Tao membuang tas belanjaan yang dibawanya ke lantai kemudian dirinya melompat dari balkon yang tinggi hingga jatuh ke beberapa lantai di bawahnya. Tao pun tewas seketika. walau jenazah Tao segera dievakuasi, kejadian itu masih menyisakan trauma. (Dailymail)

udah percaya kan? 

sumber: facebook

Jangan Takut Menulis

Jangan takut tulisanmu ngga dibaca, saya jamin PASTI ada yang baca (emang saya siapa?). Minimal kamu sendiri yang membacanya. Ngga usah pedulikan aturan menulis, tata bahasa, ejaan yang disempurnakan, ejaan yang dikorupsikan atau eja makan, atau eja belajar atau eja apapun itu, tulis aja sesuka hatimu. Menulis itu hanya caranya, yang terpenting adalah kemauan. Mau nulis apa ya? sini aku bisikin. Sebaiknya kamu nulis tentang mantan-mantanmu. Kamu punya pacar ngga? oh iya lupa. kamu kan jomblo. Baiklah, sini aku bisikin lagi. Sebaiknya kamu nulis tentang perasaanmu aja dulu. Perasaan kan banyak ya, ada perasaan senang, sedih, ragu-ragu. Tinggal pilih aja, satu ya, biar fokus.

Oke, sekarang kamu pilih perasaan senang. Aku tanya kamu ya, nanti kamu jawab dan tulis jawabanmu di bukumu, atau di laptopmu, atau di tabletmu, jangan di jidatmu, susah, aku sudah nyoba dan memang susah. Kenapa kamu senang? —terus kamu jawab, aku senang karena ketemu kecengan aku hari ini. Sebenarnya sih udah lama aku memendam perasaan ini, tapi aku masih ragu ini perasaan cinta atau emosi sesaat aja. Tapi kalau emosi sesaat kan harusnya gak lama kan? aduh aku galau. — Nah! itu udah berapa baris tuh? itung sendiri. Terus aku nanya lagi, siapa orangnya? — kamu jawab lagi: Orangnya sih biasa aja, tapi setiap ketemu dia, hatiku deg-degan, darah ini mengalir bagai air mancur. Dia itu teman aku, tapi ngga tau kalau dia menganggap aku teman. ya begitu deh. yah..aku galau…— nah begitu aja seterusnya. 

Intinya kemauan dan rajin-rajinlah bertanya kepada diri sendiri. Oke cukup ya. Mari kita sama-sama belajar, saya juga ngga ngerti gimana itu menulis, tapi ya saya tulis aja terus baca sendiri. :) 

Salam kenal ya! ;) @sitepu