Masa Lalu

Teringat dulu saat pertama ke Bandung, daftar ulang ke kampus, beruntung dapat kenalan yang dikenalkan teman yang membantu proses mencari kosan, daftar ulang, belanja peralatan kosan, dll semuanya selesai dalam satu hari.

Pertemanan itu sangat penting dikala kita butuh bantuan teman. Tapi apakah pertemanan itu masih penting disaat mereka yang butuh bantuan kita?

PILIHANKU

Adalah keliru menuduh seseorang itu berbuat jahat, misalnya menuduh Prabowo itu penculik. Tapi jika sudah terbukti dia menculik, adalah keliru jika tidak mengatakan dia bukan penculik. 

Juga sebuah kekeliruan jika mengatakan Jokowi itu presiden pro rakyat, karena dia belum pernah menjadi presiden. Tapi tidak keliru jika kita mengatakan Jokowi itu pemimpin yang turun ke masyarakat, karena sudah terbukti hal itu terjadi.

Maksud saya mau mengatakan, hal-hal yang belum terjadi tidak seorangpun yang bisa tahu. Kita hanya bisa menilai seseorang dari masa lalunya. Itulah peran sejarah untuk masa depan, walaupun ini tidak benar sepenuhnya, sejarahlah yang menentukan hari depan.

Dalam kehidupan ini banyak manusia yang punya cara berpikir yang tidak sama satu dengan yang lainnya. Ada yang berpikir Prabowo itu tegas, ada juga berpendapat Jokowi itu pro rakyat. Ada juga yang berpikir, baik Prabowo ataupun Jokowi tidak pantas menjadi presiden Indonesia. Itu tidak salah bagi mereka, karena itu adalah hasil pemikiran mereka.Yang salah adalah ketika mereka memaksakan pemikiran mereka agar diterima oleh orang lain. Yang salah adalah mereka yang tidak menerima perbedaan lalu sakit hati, lalu bentrok. Saya judge, sungguh pendek cara berpikirnya. 

Di bulan ini, kita akan memilih presiden Indonesia, 9 Juli 2014 nanti. Ada dua calon, yaitu Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Menurut hasil pemikiran saya, saya akan memilih Jokowi-JK. Kenapa? Karena saya belajar dari sejarah. Menurut saya Jokowi itu lebih unggul daripada Prabowo. Keunggulannya banyak, Jokowi itu lebih pro rakyat, Jokowi itu lebih terlihat sederhana oleh mata saya, Jokowi itu naik kelas dari walikota, gubernur, hingga presiden, Di mata saya, Jokowi itu berhasil memimpin Surakarta, memimpin Jakarta, dan berhasil memimpin keluarganya sendiri. Ini hanya sebagian kecil yang saya tahu tentang kebaikan-kebaikan Jokowi di mata saya. Selain itu, orang-orang yang bergabung di kubu Jokowi lebih meyakinkan saya daripada orang-orang yang bergabung di kubu Prabowo. Hal-hal itulah yang membuat saya akan memilih Jokowi menjadi presiden Indonesia selanjutnya.

Dengan harapan, Indonesia lebih maju lagi, rakyat kecil lebih diperhatikan lagi, ekonomi bisa tumbuh lebih cepat dan lebih merata ke seluruh lapisan masyarakat dari Aceh hingga ke Papua. Harapan yang paling besar adalah terjadinya revolusi mental di negeri ini. 

Inilah pendapat saya, yang pasti akan berbeda dengan pendapat-pendapat manusia lainnya. Kita berbeda bukan berarti harus bermusuhan, tapi kalau ada yang cari gara-gara, kita buat rame! :D

Salam dua jari dari rakyat biasa.

Bandung, 1 Juli 2014.

Ada lagu "Pelangi sehabis hujan", ada juga lagu "Badai pasti berlalu" ini contoh lagu-lagu penyemangat bagi orang-orang yang tidak semangat bahkan kehilangan harapan. Tapi menurutku judul lagu itu terlalu puitis, lebih baik terang-terangan aja, misalnya "Bayar setelah makan", selain puitis, bisa juga dipake untuk sticker di cafe atau warteg. Contoh lain "Angkot pasti berlalu" selain puitis, bisa juga dipakai untuk menyemangati orang-orang yang sedang nunggu angkot. 

Selain lagu, ada juga pepatah-pepatah yang menyesatkan “Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, ini apa coba? seakan-akan kalau mau senang itu, harus sakit dulu. Ga tau biaya berobat itu mahal? iya kalau bisa senang setelah sakit, kalau mati kemudian gimana? biaya penguburan juga mahal coy. Ga setujulah sama pepatah itu. Aku revisi menjadi: "Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Jangan mau sakit, biar kita senang". Setuju kan? 

Jangan Batasi Dirimu

Kalau sedari dulu semua orang berpikir realistis, ga akan tercipta sesuatu yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin terjadi, seperti telepon, listrik, televisi, pesawat terbang, dll.

Kaum realistis hanya percaya terhadap hal-hal yang sudah ada. Tetapi pemikiran besar melebihi pemikiran realistis, karena para pemikir besar mempunyai sebuah keyakinan (iman) terhadap hal-hal yang tidak/belum ada atau belum terlihat oleh indra penglihatan.

Para pemikir besar telah menciptakan ponsel, yang sebelumnya tak dipercayai para pemikir realistis.

Awalnya kau akan dikatakan gila saat bercita-cita ingin bercocok tanam di planet Mars sampai keinginanmu itu terjadi.

Kau yang mana? Kaum realis atau pemikir besar? Jika pikiranmu sering membatasi dirimu, kau adalah kaum realis. Jika kau punya keyakinan menjadi seorang presiden RI, kau adalah seorang pemikir besar. Karena bagi kaum realis, hatinya berkata “sudahlah, ingat siapa dirimu, gak mungkin presiden RI sepertimu. Apalagi peluang menjadi presiden itu satu banding 200juta”. Tetapi pemikir besar punya pemikiran lain, hatinya berkata “Nothing is impossible, I’m possible”.

Berserah atau Menyerah?

Bagi kebanyakan orang, percaya bahwa rejeki memang sudah ada yang mengatur. Ada yang mengartikannya; “Mau kerja sekeras apapun, kalau memang rejekinya pasti dapat. Kalau ngga rejeki, ga akan dapat”. Kemudian aku mendengar pendapat sebagian orang lagi, mereka mengartikan rejeki itu seperti prinsip peluang “Semakin banyak kau menabur benih, peluang berhasil tuaianmu semakin banyak”.

Aku setuju dengan kedua pendapat tersebut. Namun yang harus ditekankan adalah lakukan apa yang menjadi bagianmu sisanya Tuhan yang menyelesaikan. Logika bisa membuat kita jatuh, iman bisa membuat kita bangkit. Untuk menjadi bijak, kita harus tahu kapan berserah dan kapan harus menyerah.

The Past Will Never Return. 

Dua tahun lalu, tepatnya 31 Desember 2011 menjelang 1 Januari 2012 sekelompok mahasiswa pecinta makanan, mereka adalah Kris, Supri, Lemon, Gio dan Agita sepakat pergi ke sebuah tempat, nama tempatnya Cartil. Banyak orang disana terlihat kedinginan karena memang dingin dan sudah tengah malam. Semuanya bersiap menyambut tahun baru. 

Tepat pukul 00.00 WIB suasana menjadi riuh, meriahnya suara trompet dimana-mana dihiasi kembang api meroket ke langit lalu memancarkan cahaya seperti bunga, cerahnya cuaca malam itu seakan setuju jika malam itu adalah malam pergantian tahun. Manusia yang hadir disitu seperti tidak ada yang bersedih, semua seperti gembira bisa melewati malam itu dengan kemeriahan.

Begitu juga dengan mahasiswa pecinta makanan itu, mereka tampak bahagia dan kelihatan seperti berbisik dihati masing-masing menyusun resolusi tahun barunya. Salah satunya yang jelas adalah ingin lulus dari perkuliahan mereka, dan resolusi yang lain-lainnya tidak bisa ditebak, biarkan saja waktu yang menjawab.

Waktu itu sudah berlalu dua tahun. Kini mereka sudah berjauh-jauhan dengan cerita hidup yang semakin banyak tentu dengan umur yang semakin matang juga. Suatu saat jika mereka bertemu lagi, pasti akan mengenang cerita Cartil 2012. :-)

The Past Will Never Return.

Dua tahun lalu, tepatnya 31 Desember 2011 menjelang 1 Januari 2012 sekelompok mahasiswa pecinta makanan, mereka adalah Kris, Supri, Lemon, Gio dan Agita sepakat pergi ke sebuah tempat, nama tempatnya Cartil. Banyak orang disana terlihat kedinginan karena memang dingin dan sudah tengah malam. Semuanya bersiap menyambut tahun baru.

Tepat pukul 00.00 WIB suasana menjadi riuh, meriahnya suara trompet dimana-mana dihiasi kembang api meroket ke langit lalu memancarkan cahaya seperti bunga, cerahnya cuaca malam itu seakan setuju jika malam itu adalah malam pergantian tahun. Manusia yang hadir disitu seperti tidak ada yang bersedih, semua seperti gembira bisa melewati malam itu dengan kemeriahan.

Begitu juga dengan mahasiswa pecinta makanan itu, mereka tampak bahagia dan kelihatan seperti berbisik dihati masing-masing menyusun resolusi tahun barunya. Salah satunya yang jelas adalah ingin lulus dari perkuliahan mereka, dan resolusi yang lain-lainnya tidak bisa ditebak, biarkan saja waktu yang menjawab.

Waktu itu sudah berlalu dua tahun. Kini mereka sudah berjauh-jauhan dengan cerita hidup yang semakin banyak tentu dengan umur yang semakin matang juga. Suatu saat jika mereka bertemu lagi, pasti akan mengenang cerita Cartil 2012. :-)

Gedung tua ini masih saja berdiri teguh di Bumi Parahyangan. Kemarin malam, sengaja datang kesini untuk memotret gedung ini. Gedung ini adalah icon Universitas Pendidikan Indonesia, terlihat dari setiap tahun, gedung ini selalu menjadi cover kalender dan buku kurikulum UPI.

Di hari libur, sering ada sesi pemotretan berlatar belakang gedung ini, entah itu prawedding atau hanya sekedar menyalurkan hobby photograpy para pelaku jeprat-jepret.

Gedung tua ini masih saja berdiri teguh di Bumi Parahyangan. Kemarin malam, sengaja datang kesini untuk memotret gedung ini. Gedung ini adalah icon Universitas Pendidikan Indonesia, terlihat dari setiap tahun, gedung ini selalu menjadi cover kalender dan buku kurikulum UPI.

Di hari libur, sering ada sesi pemotretan berlatar belakang gedung ini, entah itu prawedding atau hanya sekedar menyalurkan hobby photograpy para pelaku jeprat-jepret.

Hari ini jalan-jalan ke Giggle Box. Ternyata disana ada makanan dan minuman tapi tidak gratis. Akhirnya kita memesan makan dan minum seperti terlihat pada foto ini.

Suasana cafenya nyaman, desain interiornya beda, tidak seperti cafe resto yang sering saya kunjungi (baca: warteg) kalau tidak percaya lihat aja fotonya.

Di Bandung ada beberapa GiggleBox, ada di Setiabudi, Cihampelas, dll. (Lihat gambar, ada alamatnya). Untuk yang difoto, ini GiggleBox di Jl. Setiabudi tidak jauh dari Rumah Mode sebelum pom bensin.

Bagi yang suka makan, terus foto narsis, tempat ini sangat cocok. Apalagi harganya ramah lingkungan. Mulai belasan ribu hingga puluhan ribu.

Gatau judulnya…

Berawal dari tweet tentang Lionel Messi yang berpacaran dengan seorang perempuan dan sudah punya anak satu, dan kehidupan mereka sederhana walau gaji pesepak bola itu 2 milyar rupiah per pekan, tapi pakaian yang dikenakan pacarnya itu mulai dari bawah hingga ke atas hanya senilai sekitar 3.5 juta RUPIAH (bukan dolar). Dan kekasihnya itu juga bukan orang miskin, tapi seorang model.

Tapi masalahnya kemudian bukan disitu, melainkan, mereka belum menikah, masih berpacaran tapi sudah tinggal serumah dan sudah punya anak. Kalau di Indonesia sih itu gak boleh, karena kita punya adat, norma, agama, yang tidak memperbolehkan “kumpul kebo”. Jadilah di Indonesia itu budaya kawin-cerai. Menikah supaya ada surat dan tidak tabu, tidak melanggar norma, adat, agama, dan tidak malu. Dan kemudian tidak cinta lagi, lalu cerai, alasannya tidak sepaham lagi atau sudah tidak cocok lagi. Lalu untuk apa menikah jika hanya ingin mendapatkan surat nikah? Bukankah lebih baik dianggap melanggar norma, adat, bahkan agama, tetapi setia mencintai? Setia hidup bersama.

Menikah itu untuk mendapat pengakuan memiliki seseorang, tetapi mencintai itu tidak butuh surat. Tiba-tiba teringat Yusuf dan Maria yang bertunangan dan punya anak. Tunangan kan belum pake surat, tapi sudah hamil duluan, nah lho..!

Hidup ini sih hak masing-masing, tapi kalau menikah lalu cerai lagi, mending tidak menikah (pacaran saja) tapi punya anak, hidup bersama penuh kasih bersama pacar dan anak-anak, walau kata orang kumpul kebo, itu lebih baik daripada kawin-cerai. Namun yang paling baik diantaranya hanyalah menikah lalu beranak dan tidak boleh cerai hingga maut yang memisahkan.