Lowongan CPNS Badan Narkotika Nasional Tahun Anggaran 2014

* S1 Semua Jurusan 20 org
* S1 Kedokteran Umum 45 org
* S1 Ekonomi 40 org
* S1 Psikologi 34 org
* D-III Akuntansi 100 org
* D-III Keperawatan/Kesehatan Lingkungan 35 org
* D-III Keperawatan 4 org
* D-III Analis Kimia/Analis Farmasi 19 org
* D-III Radiologi 1 org
* D-III Farmasi 1 org
* D-III Manajemen Informatika 89 org
* S1 Adm. Negara/Publik 2 org
* D-III Teknik Mesin/Otomotif 2 org

• Berusia Maksimal 35 tahun pada tanggal 1 Desember 2014
• IPK : minimal 2,75 (S1); 2,50 (D3)

www.bnn.go.id
www.panselnas.menpan.go.id
www.sscn.bkn.go.id

Masa Lalu

Teringat dulu saat pertama ke Bandung, daftar ulang ke kampus, beruntung dapat kenalan yang dikenalkan teman yang membantu proses mencari kosan, daftar ulang, belanja peralatan kosan, dll semuanya selesai dalam satu hari.

Pertemanan itu sangat penting dikala kita butuh bantuan teman. Tapi apakah pertemanan itu masih penting disaat mereka yang butuh bantuan kita?

PILIHANKU

Adalah keliru menuduh seseorang itu berbuat jahat, misalnya menuduh Prabowo itu penculik. Tapi jika sudah terbukti dia menculik, adalah keliru jika tidak mengatakan dia bukan penculik. 

Juga sebuah kekeliruan jika mengatakan Jokowi itu presiden pro rakyat, karena dia belum pernah menjadi presiden. Tapi tidak keliru jika kita mengatakan Jokowi itu pemimpin yang turun ke masyarakat, karena sudah terbukti hal itu terjadi.

Maksud saya mau mengatakan, hal-hal yang belum terjadi tidak seorangpun yang bisa tahu. Kita hanya bisa menilai seseorang dari masa lalunya. Itulah peran sejarah untuk masa depan, walaupun ini tidak benar sepenuhnya, sejarahlah yang menentukan hari depan.

Dalam kehidupan ini banyak manusia yang punya cara berpikir yang tidak sama satu dengan yang lainnya. Ada yang berpikir Prabowo itu tegas, ada juga berpendapat Jokowi itu pro rakyat. Ada juga yang berpikir, baik Prabowo ataupun Jokowi tidak pantas menjadi presiden Indonesia. Itu tidak salah bagi mereka, karena itu adalah hasil pemikiran mereka.Yang salah adalah ketika mereka memaksakan pemikiran mereka agar diterima oleh orang lain. Yang salah adalah mereka yang tidak menerima perbedaan lalu sakit hati, lalu bentrok. Saya judge, sungguh pendek cara berpikirnya. 

Di bulan ini, kita akan memilih presiden Indonesia, 9 Juli 2014 nanti. Ada dua calon, yaitu Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Menurut hasil pemikiran saya, saya akan memilih Jokowi-JK. Kenapa? Karena saya belajar dari sejarah. Menurut saya Jokowi itu lebih unggul daripada Prabowo. Keunggulannya banyak, Jokowi itu lebih pro rakyat, Jokowi itu lebih terlihat sederhana oleh mata saya, Jokowi itu naik kelas dari walikota, gubernur, hingga presiden, Di mata saya, Jokowi itu berhasil memimpin Surakarta, memimpin Jakarta, dan berhasil memimpin keluarganya sendiri. Ini hanya sebagian kecil yang saya tahu tentang kebaikan-kebaikan Jokowi di mata saya. Selain itu, orang-orang yang bergabung di kubu Jokowi lebih meyakinkan saya daripada orang-orang yang bergabung di kubu Prabowo. Hal-hal itulah yang membuat saya akan memilih Jokowi menjadi presiden Indonesia selanjutnya.

Dengan harapan, Indonesia lebih maju lagi, rakyat kecil lebih diperhatikan lagi, ekonomi bisa tumbuh lebih cepat dan lebih merata ke seluruh lapisan masyarakat dari Aceh hingga ke Papua. Harapan yang paling besar adalah terjadinya revolusi mental di negeri ini. 

Inilah pendapat saya, yang pasti akan berbeda dengan pendapat-pendapat manusia lainnya. Kita berbeda bukan berarti harus bermusuhan, tapi kalau ada yang cari gara-gara, kita buat rame! :D

Salam dua jari dari rakyat biasa.

Bandung, 1 Juli 2014.

Ada lagu "Pelangi sehabis hujan", ada juga lagu "Badai pasti berlalu" ini contoh lagu-lagu penyemangat bagi orang-orang yang tidak semangat bahkan kehilangan harapan. Tapi menurutku judul lagu itu terlalu puitis, lebih baik terang-terangan aja, misalnya "Bayar setelah makan", selain puitis, bisa juga dipake untuk sticker di cafe atau warteg. Contoh lain "Angkot pasti berlalu" selain puitis, bisa juga dipakai untuk menyemangati orang-orang yang sedang nunggu angkot. 

Selain lagu, ada juga pepatah-pepatah yang menyesatkan “Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, ini apa coba? seakan-akan kalau mau senang itu, harus sakit dulu. Ga tau biaya berobat itu mahal? iya kalau bisa senang setelah sakit, kalau mati kemudian gimana? biaya penguburan juga mahal coy. Ga setujulah sama pepatah itu. Aku revisi menjadi: "Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Jangan mau sakit, biar kita senang". Setuju kan? 

Jangan Batasi Dirimu

Kalau sedari dulu semua orang berpikir realistis, ga akan tercipta sesuatu yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin terjadi, seperti telepon, listrik, televisi, pesawat terbang, dll.

Kaum realistis hanya percaya terhadap hal-hal yang sudah ada. Tetapi pemikiran besar melebihi pemikiran realistis, karena para pemikir besar mempunyai sebuah keyakinan (iman) terhadap hal-hal yang tidak/belum ada atau belum terlihat oleh indra penglihatan.

Para pemikir besar telah menciptakan ponsel, yang sebelumnya tak dipercayai para pemikir realistis.

Awalnya kau akan dikatakan gila saat bercita-cita ingin bercocok tanam di planet Mars sampai keinginanmu itu terjadi.

Kau yang mana? Kaum realis atau pemikir besar? Jika pikiranmu sering membatasi dirimu, kau adalah kaum realis. Jika kau punya keyakinan menjadi seorang presiden RI, kau adalah seorang pemikir besar. Karena bagi kaum realis, hatinya berkata “sudahlah, ingat siapa dirimu, gak mungkin presiden RI sepertimu. Apalagi peluang menjadi presiden itu satu banding 200juta”. Tetapi pemikir besar punya pemikiran lain, hatinya berkata “Nothing is impossible, I’m possible”.

Berserah atau Menyerah?

Bagi kebanyakan orang, percaya bahwa rejeki memang sudah ada yang mengatur. Ada yang mengartikannya; “Mau kerja sekeras apapun, kalau memang rejekinya pasti dapat. Kalau ngga rejeki, ga akan dapat”. Kemudian aku mendengar pendapat sebagian orang lagi, mereka mengartikan rejeki itu seperti prinsip peluang “Semakin banyak kau menabur benih, peluang berhasil tuaianmu semakin banyak”.

Aku setuju dengan kedua pendapat tersebut. Namun yang harus ditekankan adalah lakukan apa yang menjadi bagianmu sisanya Tuhan yang menyelesaikan. Logika bisa membuat kita jatuh, iman bisa membuat kita bangkit. Untuk menjadi bijak, kita harus tahu kapan berserah dan kapan harus menyerah.